google.com, pub-4375986082230734, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Meriahnya Tradisi Barong Ider Bumi, Masyarakat Osing Kemiren

Banyuwangi – Rangkaian ritual Barong Ider Bumi di Desa Kemiren, Banyuwangi, berlangsung dengan penuh khidmat. Sepanjang perjalanan, para peserta melakukan pembacaan macapat atau tembang yang tersurat dalam Lontar Yusuf, yang merupakan bentuk doa kepada Tuhan serta mantra untuk roh nenek moyang.

Dalam prosesi arak-arakan, pemimpin ritual melakukan sembur uthik-uthik—salah satu sarana ritual berupa beras kuning, bunga, dan uang koin yang dilempar-lemparkan dalam rangkaian upacara. Prosesi ini diikuti oleh tokoh adat serta tamu undangan.

Suku Osing Banyuwangi sangat meyakini mitos yang berkaitan dengan ritual selamatan bersih desa, yakni Tradisi Ider Bumi atau Barong Ider Bumi. Tradisi ini merupakan salah satu ritual tahunan yang dilaksanakan oleh Suku Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.

Tradisi ini rutin dilaksanakan pada bulan Syawal, tepatnya pada hari kedua Lebaran Idulfitri. Untuk tahun ini, tradisi tersebut jatuh pada tanggal 1 April 2025.

Upacara ini ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan masyarakat desa. Ritual ini juga dikenal sebagai pengusir pagebluk (tolak bala).

Tradisi Barong Ider Bumi disambut dengan antusias oleh ribuan masyarakat Osing karena berkaitan dengan keyakinan mereka terhadap keberadaan Danyang Desa Kemiren, yakni Buyut Cili.

Ritual Idher Bumi bermula dari peristiwa yang terjadi sekitar tahun 1800-an. Pada saat itu, Desa Kemiren terserang pageblug atau blindeng dalam bahasa setempat. Pageblug adalah bencana yang datang secara tiba-tiba dan menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat Jawa.

Suhaimi, selaku tokoh masyarakat adat Desa Kemiren, menyampaikan bahwa ritual adat Barong Ider Bumi ini dipercaya pertama kali muncul sekitar tahun 1840-an. Saat itu, Desa Kemiren dilanda wabah yang menyebabkan banyak warga menjadi korban. Bahkan, warga mengalami gagal panen akibat serangan hama pada tanaman mereka.

“Kemudian, muncul masa paceklik yang berlangsung sangat lama. Para sesepuh desa kala itu meminta saran kepada Mbah Buyut Cili, yang dipercaya sebagai leluhur Desa Kemiren. Melalui mimpi, diterima wangsit yang mengisyaratkan bahwa masyarakat Desa Kemiren harus mengadakan upacara selamatan dan arak-arakan yang melintasi jalan desa. Warga desa diminta melakukan arak-arakan Barong—sosok makhluk bermahkota yang memiliki sayap dan dipercaya bisa menjaga desa sebagai penolak bala,” tutur Suhaimi.

Arifin, selaku Kepala Desa Kemiren, mengungkapkan rasa syukur atas terlaksananya ritual tahun ini meskipun dalam kondisi hujan.

“Kami tetap bersyukur karena hujan adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Arifin juga menegaskan bahwa ritual Barong Ider Bumi merupakan bagian dari upaya pelestarian adat dan budaya.

“Ini adalah kewajiban kami untuk melestarikan budaya leluhur. Ke depan, kami berharap tradisi ini tetap diwariskan oleh generasi muda, sehingga budaya dan adat istiadat Osing tetap lestari,” katanya.

Saat gamelan mulai dimainkan, barong siap diarak keliling desa dengan iringan masyarakat yang mengenakan pakaian adat. Arak-arakan dimulai dari sisi timur Desa Kemiren menuju bagian barat, menempuh jarak sekitar 2 km.

Sepanjang perjalanan, tokoh adat melakukan tradisi sembur uthik-uthik, yakni menebarkan sekitar 999 koin logam yang dicampur dengan beras kuning serta berbagai macam bunga sebagai simbol penolak bala.

Puncak acara ditandai dengan kenduri massal, di mana warga duduk bersama di sepanjang jalan desa, menikmati hidangan khas Banyuwangi, yaitu pecel pithik, yang disajikan secara beramai-ramai.

Sementara itu, Haidi Bing, salah satu tokoh budaya Desa Kemiren, mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya ritual ini.

“Alhamdulillah, kita semua dapat berkumpul di sini untuk menghadiri ritual Barong Ider Bumi, yang juga merupakan bagian dari Banyuwangi Festival 2025,” ujarnya.

“Tradisi turun-temurun ini telah melahirkan masyarakat yang guyub, rukun, dan damai. Semoga kelak diwarisi oleh generasi muda penerusnya,” harap Haidi.

“Kemiren sudah lama menjadi jantung budaya Banyuwangi. Ke depan, tradisi ini harus tetap dilestarikan oleh generasi muda, sehingga budaya dan adat istiadat Osing tetap lestari,” pungkasnya.