google.com, pub-4375986082230734, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Warga Kesilir dan Seneporejo Gelar Tradisi Buka Bumi dan Selamatan 1.000 Takir di Jembatan Gantung Sungai Sumbang

Warga melaksanakan tradisi Buka Bumi dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Siliragung, 28 Mei 2025 – Tradisi budaya lokal dan semangat gotong royong kembali ditunjukkan oleh warga Desa Kesilir dan Seneporejo dalam acara adat “Buka Bumi” yang berlangsung khidmat pada Rabu (28/5/2025). Bertempat di Jembatan Gantung Sungai Sumbang, Dusun Silirsari, Desa Kesilir, ratusan warga dari dua desa berkumpul untuk melaksanakan ritual sakral serta selamatan 1.000 takir sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, khususnya sosok yang dihormati, Mbah Bejan.

Acara ini sekaligus menjadi momentum penting dalam pelaksanaan pembongkaran jembatan gantung oleh personel Kodim 0825 Banyuwangi bersama sekitar 200 warga. Pembongkaran ini merupakan bagian dari program Pra TMMD ke-125 (Tentara Manunggal Membangun Desa), yang bertujuan meningkatkan infrastruktur dan aksesibilitas masyarakat pedesaan.

Kepala Desa Kesilir, Mujiono, menyampaikan apresiasi tinggi kepada TNI dan seluruh warga yang telah berpartisipasi aktif.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Kodim 0825 serta seluruh warga. Ini adalah wujud nyata sinergi antara pemerintah desa, TNI, dan masyarakat dalam membangun desa,” ujar Mujiono.

Dandim 0825 Banyuwangi, Letkol Arh Joko Sukoyo, S.Sos., M.Han., yang hadir langsung di lokasi kegiatan, menyatakan bahwa TMMD merupakan salah satu bentuk komitmen TNI dalam mendukung pembangunan desa melalui kerja nyata yang langsung dirasakan oleh masyarakat.

“Kami juga mengapresiasi masyarakat yang tetap melestarikan nilai-nilai budaya lokal seperti tradisi Buka Bumi. Ini membuktikan bahwa pembangunan fisik bisa berjalan beriringan dengan kekuatan spiritual dan kearifan lokal,” tegas Letkol Joko Sukoyo.

Sementara itu, perwakilan warga Desa Seneporejo, Eko Yuliono, menyampaikan harapan besar agar pembangunan jembatan permanen yang akan menggantikan jembatan gantung ini dapat segera terwujud.

“Kami sangat bersyukur. Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih, masyarakat berharap jembatan ini kelak dapat diberi nama Letkol Arh Joko Sukoyo, S.Sos., M.Han.,” ujarnya.

Tradisi Buka Bumi dan selamatan 1.000 takir menjadi simbol kuat dari harmonisasi antara pembangunan fisik dan spiritual, memperkuat ikatan masyarakat dengan nilai-nilai leluhur serta menandai awal perubahan besar demi kesejahteraan generasi mendatang. (Ikhsan/Yati)